Mengumbar transformasi taktik dan strategi Juventus


KabarSepakbola; Satu hal yang tidak akan berubah dalam dunia ini adalah perubahan itu sendiri.

Kita akan selalu menyaksikan sebuah pergeseran dari satu hal menjadi hal lainnya selama kita masih bernafas, inilah keabsolutan hidup.


Conte menerapkan formasi all-out-hit 4-2-4 ketika ia pertama kali datang di Juventus Stadium. Dalam taktik ini, ia memilih untuk fokus menyerang melalui kedua sayap yang ia miliki.

Alih-alih memakai formasi ini untuk membuktikan bahwa Milos Krasic adalah ‘Pavel Nedved baru’, ia lebih memilih mengisi sisi kanan penyerangannya dengan Simone Pepe dan Marcelo Estigarribia di sisi kiri bukannya wonderkid Belanda Eljero Elia. Hal ini dikarenakan Conte adalah tipe pelatih yang lebih menyukai pemain dengan tipikal ngotot dan mau bekerja keras dibandingkan pemain yang mempunyai keunggulan cleverness di bidang tertentu, dan hal tersebut berada dalam diri Pepe atau Estigarribia.

Taktik ini mempunyai keunggulan dan kelemahan, diantaranya:

(Keunggulan) Efektif dan efisien dalam peralihan jika melawan tim dengan formasi sama namun resilience dan ketahanan fisik buruk. Pada musim 2011/12 lalu saat laga kontra Napoli, Conte dan Walter Mazzari [pelatih Napoli] menerapkan formasi yang sama di awal laga yakni 3-5-2. Di babak pertama, Juventus keteteran meladeni agresivitas para pemain Napoli. Marek Hamsik sukses mematikan Andrea Pirlo, dan Cristian Maggio mampu merepotkan Estigarribia di sisi kiri permainan Juventus. Hasilnya? Juventus tertinggal 2 gol dari Napoli yang kesemuanya berawal dari serangan di sisi kiri ‘Bianconeri’. Di babak kedua, Conte membuktikan bahwa ia adalah seorang yang jenius. Ia merubah skema 3-5-2 menjadi 4-2-4. Stephan Lichtsteiner dan Giorgio didapuk menjadi full back untuk mengapit duet bek mereka, Andrea Barzagli dan Leonardo Bonucci. Sisi kanan penyerangan diserahkan kepada Pepe, dan di kiri masih tetap milik Estigarribia. Perbedaannya dengan taktik di babak pertama adalah Estigarribia berada dalam zona-nyamannya karena urusan bertahan di sisi ini diserahkan kepada Chiellini. Estigarribia juga diberi instruksi khusus oleh Conte untuk terus menekan Maggio. Tiga gol Juve pun lahir dari pergerakan di sektor kiri penyerangan ‘La Vecchia Signora’. Melihat bagaimana Conte merubah skemanya di babak kedua dan memilih untuk secara biadab ‘memperkosa’ Maggio di sisi kanan pertahanan Napoli adalah [sekali lagi] sebuah kejeniusan.

(Keunggulan) Menggunakan dua midfielder di tengah [yang sudah sangat jarang diterapkan oleh pelatih dalam sepakbola modern] ternyata membuat lini tengah Juventus mampu meng-take in ruang yang diciptakan oleh lawannya. Formasi 4-2-4 secara kasat mata memang hanya menyisakan dua midfielder sebagai penguasa lini tengah, sedangkan dua winger berkosentrasi untuk bermain di sisi sayap. Namun, winger-lah yang menjadi sosok pemain yang bisa menguasai ruang dalam skema all-out-hit ini. Para winger selalu bisa menemukan ruang karena dua midfielder berperan sebagai ‘pelindung’ yang memberikan kebebasan kepada para pemain sayap ini meng-eksploitasi lebar lapangan.

(Kelemahan) Banyak potensi pemain yang dikesampingkan jika Conte menerapkan formasi ini di atas lapangan. Chiellini tidak tampil dalam posisi aslinya dan harus digeser menjadi full back. Hal ini membuat dirinya tampil inkonsisten. Begitu juga dengan potensi dalam diri Lichtsteiner yang diredam karena adanya seorang winger [seperti Pepe] yang sudah mendapatkan ruang lebih banyak di sisi kanan Juventus. Lichtsteiner hanya berkonsentrasi untuk menjaga kedalaman, jelas suatu hal yang sia-sia. Formasi ini juga harus mengorbankan potensi brilian dari tiga gelandang terbaik Juve: Marchisio-Pirlo-Vidal. Ketiga pemain ini harus bermain secara bergantian dan sekali lagi membuktikan jika 4-2-4 adalah semacam kesia-siaan.

(Kelemahan) Inkonsistensi sisi kiri Juventus. Dalam skema ini, sisi kiri adalah titik terlemah dari Juventus yang selalu menjadi pesakitan dan seringkali menimbulkan situasi berbahaya di depan gawang Gianluigi Buffon.

4-1-4-1: Demi seorang Arturo Vidal dan menyenangkan Andrea Pirlo


Memiliki pemain seperti Marchisio, Pirlo, dan Vidal dalam skuad namun lebih memilih untuk merotasi salah satu dari tiga manusia ini adalah sebuah kebodohan, apalagi jika hal tersebut dilakukan dengan alasan untuk kecocokan skema permainan di atas lapangan hijau adalah suatu kekonyolan dan pantas untuk di caci maki menurut hemat saya.

Conte mungkin menyadari hal ini dan akhirnya merubah formasi dan skemanya menjadi 4-1-4-1. Jelas bahwa perubahan formasi ini dimaksudkan untuk memaksimalkan potensi Marchisio, Pirlo, dan Vidal.

Pirlo diplot sebagai deep-insincere playmaker yang bertugas sebagai pengatur pembagian bola pada lini penyerangan Juventus, sedangkan Marchisio dan Vidal ditugaskan untuk melindungi Pirlo dari marking terkutuk yang akan diterapkan oleh lawan. Meski sama-sama bertugas untuk melindungi Pirlo dalam mengembangkan kreativitasnya, Marchisio dan Vidal sejatinya memiliki peran yang berbeda.

Marchisio yang selalu bermain sebagai trequarista semasa ia menimba ilmu di akademi Juventus mempunyai visi menyerang yang lebih baik ketimbang Vidal. Dengan ciri khas pemain bernomor punggung 8 Juve yang selalu tampil ngotot dan memiliki grinta kental, Marchisio lebih diposisikan sebagai attacking midfielder oleh Conte dalam skema ini.

Vidal? Pemain ini adalah jawaban untuk kekurangan yang dimiliki oleh Marchisio: land ball. Conte memfungsikannya sebagai defensive midfielder untuk melakukan ‘pekerjaan kasar’ lini tengah Juventus, yakni intersep, critical, cleverness box-to-box, dan tackle keras, yang semuanya mampu dilakukan dengan baik oleh ‘King Arturo’.

Namun formasi 4-1-4-1 ini bukanlah tanpa kecacatan. Kelemahan formasi ini terlihat di [lagi-lagi] sisi kiri Juventus. Marchisio yang ditugaskan di area ini sering meninggalkan celah yang cukup besar [tidak heran, karena Marchisio sejatinya adalah seorang trequaresta dan bukanlah seorang defensive midfielder] dan seringkali dimanfaatkan oleh lawan-lawannya. Dan ini menjadi semacam sinyal untuk Conte agar kembali melakukan ekspreimen jeniusnya di atas lapangan.

3-5-2: Mencabut jinx Leonardo Bonucci, menciptakan monster dalam diri Stephan Lichtsteiner, dan semakin mengerikannya performa MVP [Marchisio-Vidal-Pirlo]

Formasi ini menuntut adanya keseimbangan dalam bertahan dan menyerang yang harus diperankan dengan sangat baik oleh dua wing back. Di musim 2011/12, peran ini dimainkan oleh Estigarribia atau De Ceglie di sisi kiri dan Lichtsteiner di sisi kanan. Sedangkan musim ini, Lichtsteiner tetap mengisi pos wing back kanan dan Kwadow Asamoah di sisi kiri.

Meski masih belum menemukan sentuan terbaiknya pasca Piala Afrika kemarin, Asamoah terbilang cukup sukses memainkan peran ini di sisi kiri. Saat menyerang, cleverness drip dan kemampuan box-to-box Asamoah tidak perlu diragukan. Saat bertahan, ia mampu menutup celah di sisi kiri Juventus.


Untuk posisi wing back kanan, Juventus memiliki monster bernama Lichtsteiner. Kemampuan bertahan dan menyerang pemain berjuluk ‘The Swiss Train’ ini sama baiknya. Ia tidak akan segan mengeksploitasi sisi kiri pertahanan lawan dengan cara yang paling biadab dan dengan seketika muncul di belakang untuk membantu lini pertahanan Juve. Ditambah dengan resilience yang selalu prima dan kengototannya dalam bermain, Lichtsteiner menjadikan sisi kanan Juventus semakin menyeramkan.

Lini pertahanan Juventus dalam skema ini diisi oleh trio BBC: Barzagli, Bonucci, dan Chiellini. Dengan skema ini, lini bertahan Juventus menjadi yang terbaik di Eropa, bahkan di dunia, dengan hanya kemasukan 20 gol pada musim 2011/12 dan [hingga giornata 36] juga hanya kebobolan 20 gol.

Yang menjadi catatan adalah membaiknya penampilan Bonucci dalam komposisi ini. Jinx yang selama ini selalu melekat di dirinya seakan tercabut dan ia menjadi salah satu kunci sukses kokohnya pertahanan Juventus. Plot 3 inside warden menjadikan konsentrasi bertahan dibagi rata. Kehadiran Barzagli dan Chiellini menjamin keamanan bagi ‘si anak bungsu’. Bonucci menjadi seorang lid yang lebih banyak meng-take in bola selama pertandingan berlangsung, bahkan pemain bernomor punggung 19 ini lebih sering menjadi pilar terakhir lini pertahanan Juve.


Skema tiga bek dalam formasi 3-5-2 ala Conte ini mempunyai keunggulan jika berhadapan dengan tim yang memainkan dua penyerang. Barzagli dan Chiellini ditugaskan untuk melancarkan marking ketat kepada dua picket, sedangkan Bonucci bertugas untuk menghentikan arus serangan dari following-line tim lawan. Namun trio ini seringkali kebingungan jika harus menghadapi lawan yang hanya menurunkan satu picket karena pembagian jatah marking dan konsentrasi menghentikan bola sering terpecah. Bukti nyata dari hal ini adalah ketika Juventus tak berdaya menghadapi Bayern Munich di perempat-closing Liga Champions Eropa 2012/13 yang memang lebih sering menerapkan skema ‘lonely picket’.

Seperti yang diketahui, Juventus memiliki seorang metronom terbaik di dunia yaitu Andrea Pirlo. Conte menerapkan ideologi ‘Pirloisme’ di lini tengahnya di mana Pirlo adalah sentral untuk memulai semua serangan yang dilancarkan oleh ‘Si Nyonya Tua’. Hal ini bisa dilihat dari statistik penampilan Pirlo di Juventus: 10,3 right long-pass/game; 2,9 key-passes/game; 87% pass accomplishment/game; 80% rataan instant/game.

Dua midfielder yang menemani Pirlo di lini tengah Juventus, Marchisio dan Vidal, adalah ‘tumbal’ bagi cemerlangnya permainan Pirlo meski ‘Si Gypsy’ ini tak lagi muda. Seperti halnya skema 4-1-4-1, Marchisio dan Vidal adalah ‘custodian angel’ yang bertugas untuk melindungi kebebasan Pirlo dari marking dan critical yang akan dilancarkan kepadanya dari pemain tengah lawan. Namun dalam skema 3-5-2 ini, Marchisio dan Vidal mempunya peran penting lain dari hanya sebagai ‘tumbal’ Pirlo, yaitu kemampuan box-to-box dan physycal play sebagai pelayan setia bagi para picket yang ada di depan mereka.


Dengan formasi 3-5-2 ini, Conte berhasil menciptakan salah satu komposisi lini tengah dengan kekuatan mengerikan di dunia dalam plot MVP [Marchisio-Vidal-Pirlo].

Untuk line-up lini penyerangan, Conte selalu melakukan rotasi duet picket untuk dimainkan dalam starting eleven mereka dan dalam hal ini duet Giovinco-Vucinic berada di daftar teratas dengan 14 kali penampilan [data diambil hingga laga leg pertama perempat-closing Liga Champions versus Bayern Munich].

Conte lebih suka memainkan picket dengan tipe dynamic forwards dalam skema 3-5-2 miliknya. Pemain yang ditempatkan sebagai penyerang oleh Conte mempunyai tugas untuk mempersempit jarak antara lini depan dan lini tengah serta harus mampu bersinergi dengan wing back. Dengan tugas seperti itu maka dua picket yang dipasang harus mampu menyuguhkan linking-up play bagi lini tengah. Dua picket ini harus terus bergerak dengan tujuan menciptakan sebanyak mungkin ruang agar bisa dimanfaatkan oleh rekan setim mereka.


Sejauh ini Giovinco dan Vucinic-lah yang mampu tampil konsisten dengan peran tersebut. Dua pemain ini mampu memainkan peran ‘fake-nine’ dengan sempurna dalam skema 3-5-2 milik Conte. Karena alasan inilah pemain seperti Alessandro Matri, Fabio Quagliarella, dan Nicklas Bendtner nampak tidak cocok dalam taktik yang diterapkan Conte tersebut. Mereka bukanlah tipe pemain dengan daya jelajah dan mobilitas tinggi yang sangat diperlukan dalam tugas linking-up play untuk lini tengah Juventus.

Saat menurunkan Sebastian Giovinco dan Mirko Vucinic sebagai duet di lini depan, praktis Conte tidak memasang seorang inside forwards atau picket murni. Setiap individu pasti memiliki opini mereka sendiri, tapi menurut kacamata sok-tahu saya duet Giovinco-Vucinic adalah duet terbaik dalam skema 3-5-2 milik Conte hingga saat ini. Mirko dan Seba adalah tipe pemain yang suka berlama-lama menahan bola sembari membuka ruang untuk rekan satu tim yang ada di atas lapangan, tipikal yang memang dibutuhkan Conte untuk menyempurnakan 3-5-2 miliknya. Kombinasi umpan-umpan pendek sangat mendominasi gaya permainan Juve dan semua pemain bisa mencetak gol ketika dua manusia ini bermain secara bersamaan. Jumlah gol kedua pemain ini memang tidak mencapai dua numeral karena mereka memang diplot bukan sebagai seorang target man.

3-5-1-1: Agar semua pemain terbaik dapat bermain dalam satu skema termasuk sang bocah ajaib, Paul Pogba!

Conte kembali menunjukkan bahwa ia adalah pemuja perubahan. Setelah cukup nyaman dengan formasi 3-5-2 yang ia terapkan hampir di semua laga Juventus, Conte melakukan sedikit modifikasi dan merubahnya menjadi 3-5-1-1. Hal ini dilakukan demi seorang bocah berusia 20 tahun bernama Paul Pogba.


Namun Pogba bukanlah bocah biasa. Bocah asal Prancis ini sangat istimewa. Datang dengan reputation free conveying dari Manchester United di awal musim, Pogba tidak canggung di musim debutnya bersama Juventus dan hampir selalu bermain baik ketika ia dimainkan. Pogba melampaui semua ekspektasi orang. Mungkin Pogba juga menjadi salah satu faktor yang menunjukkan bahwa Sir Alex Ferguson memang sudah tua dan harus ganti kacamata karena tidak mampu melihat potensi ajaib dalam diri Pogba. Alih-alih mengganti kacamata, Fergie lebih memilih untuk pensiun dan mengakhiri romantisme 26 tahunnya bersama Manchester United: sebuah manifesto bahwa ia memang sudah tua. :D

Kembali pada Pogba, ia memang selalu tampil baik saat dimainkan. Ia seperti penjelmaan dari Didier Deschamps dan Patrick Vieira dalam satu tubuh. Ia bahkan pernah seperti kerasukan Edgar Davids dan Paul Scholes kala meladeni Udinese beberapa waktu silam. Pogba mencetak dua gol dalam laga tersebut, yang kesemuanya ia ciptakan lewat tendangan kerasnya. ‘Pogboss’ selalu berlari tak kenal lelah sepanjang pertandingan. Ia mempunyai jangkauan area bola yang lebih luas dan sering melakukan intersep penting bagi Juventus.

Bukti terbaru kecermelangan Pogba adalah ketika ia benar-benar menjadi jendral lapangan tengah Juve dalam laga Derby della Mole. Melansir data statistik WhoScored.com dalam laga tersebut, Pogba mampu melakukan 86% pass acuracy; 42% aerials won; 59 touches; 5 total shots; 3 dribbles won; 6 tackles; 2 intersep; dan rating 8,5; Ia pun terpilih sebagai Man of the Contest pada laga tersebut.

Pogba adalah pemain brilian dengan masa depan cerah, dan hal ini diakui oleh Conte. Usai laga melawan Lazio, Conte sempat berucap jika ia akan merasa seperti seorang kriminal dengan dosa yang sangat besar jika terus-terusan menyimpan Pogba di bench pemain cadangan.

Tidak ingin menjadi tua seperti Sir Alex, Conte pun melakukan modifikasi 3-5-2 menjadi 3-5-1-1 demi memainkan Pogba tanpa mengorbankan pemain terbaik lainnya. Pogba diposisikan sebagai inside midfielder menggantikan Marchisio yang didorong ke depan untuk menjadi trequaresta di belakang Vucinic yang kali ini berperan sebagai ‘lonely picket’. Hasilnya? Kalian pasti telah mengetahuinya.

Kesimpulan

Berbagai perubahan dan transformasi taktik yang diterapkan oleh Conte membuktikan bahwa ia akan selalu mencari solusi agar bisa memaksimalkan potensi dan talenta dari para pemain yang dimilikinya. 4-2-4, 4-1-4-1, 3-5-2, hingga 3-5-1-1 adalah bagian dari proses evolusi yang ingin dihadirkan oleh Conte dalam tubuh ‘Si Nyonya Tua’ Juventus. Egosentrisme taktik dan strategi yang selalu ia terapkan berpusat pada kesempurnaan dan kolektivitas tim. Nama besar tidak menjadi jaminan akan mendapat tempat dalam skuad utama Juventus. Menarik ditunggu formasi, taktik, dan strategi apa lagi yang akan digunakan oleh Conte karena Juventus telah memastikan kedatangan Fernando Llorente, salah satu pemain terbaik bertipikal picket murni yang dimiliki Spanyol, di musim depan.

Buffon dan Pirlo pernah menyebut bahwa Conte adalah pelatih terbaik yang pernah melatih mereka selama ini: sebuah penghormatan tertinggi untuk sang allenatore dari dua pemain terbaik di Italia.


Haruskan memberikan pujian dan menyebutnya jenius atas hasil yang ia capai bersama Juventus di dua musim terakhir ini? Jawaban saya: HARUS! Conte adalah seorang pelatih yang jenius, dan gila! [VenBi]

Incoming search terms:

  • formasi pes 2013 juventus
  • formasi juventus pes 2013
  • cara formasi & strategi juventus kalahkan real madrid PES 2014
  • formasi juve pes ps3
  • formasi real juventus pes 2014 ps2
  • strategi we 2013 ps2

Original source : Mengumbar transformasi taktik dan strategi Juventus